Satu bulan lagi (kalau diizinkan) aku akan menginjak usia 28 tahun, dua puluh delapan tahun. Usia yang tentu bukan lagi remaja, selayaknya society membuat standar, "umumnya" perempuan di usiaku sedang sibuk mempersiapkan langkah selanjutnya yaitu pernikahan. Tapi, nyatanya aku jauh dari standar itu. Aku tau, ini bukan hal yang besar apalagi di tengah krisis ekonomi, sosial, dan politik di negara ini, membuat menikah menjadi salah satu hal yang cukup dipertimbangkan saat ini. Banyak orang berbondong-bondong mengalihkan targetnya justru ke studi lanjutan atau mencari visa bekerja ke luar negeri.
Seharusnya aku bisa bernapas sejenak dari standar yang dibuat society ini, tetapi entah mengapa keinginan itu justru makin kuat, dorongan dan seperti muncul rasa kebutuhan untuk berumah tangga itu semakin kuat muncul. Mungkin salah satu faktornya karena aku hidup sendiri di Jakarta, sepi, hanya aku di ruang 5x6 meter ini. Aku benar-benar merasa kesepian dan hampa. Semua harus kuhadapi sendiri, semua harus kupikirkan sendiri, semua harus kurasakan sendiri, semua, semua.
Di awal 20-an, aku sering menghayal tentang wedding dress seperti apa yang akan kukenakan, bagaimana dengan tari pagar pengantin yang aku bawakan, siapa nanti yang akan mengucap akad atas hajat hidupku sampai akhir hayat, siapa laki-laki yang akan membersamaiku lahir dan batin seumur hidup? mimpi-mimpi itu kerap muncul di kepalaku waktu usiaku remaja. Namun entah mengapa, semakin kesini aku merasa kalau mimpiku itu semakin sulit kuwujudkan. Karir dan pendidikan yang selama ini aku pilih, hampir sesuai dengan yang aku mimpikan, hal ini selain tentu karna takdir Allah, ada usahaku di dalamnya, intinya berbeda dengan sebuah pernikahan yang harus diusahakan oleh kedua belah pihak sedangkan yang terjadi saat ini..aku justru kehilangan mimpiku yang satu itu.
Mimpi menggunakan gaun pengantin, berjalan di aisle, semakin hari semakin seperti hanya menjadi mimpi, menguap seiring bertambahnya usia dan berkurangnya circle pertemanan. Tak ada yang mau mengusahakannya denganku, tidak ada yang benar-benar serius mengusahakanku. hehehe. why?
Hari ini, entah mengapa, tepat hari ini, aku seperti kehilangan semua harapan dan mimpi itu. No more wedding dress dream, aisle, tari pagar pengantin, there's no more. Aku hanya hidup untuk hari ini, tidak ada lagi mimpi dan harapanku dalam hubungan dengan lawan jenis. Aku benar-benar menyerahkan semuanya ke Allah dan mengikuti kemana arah takdir Allah akan membawaku. Aku benar-benar sudah tidak berharap apa-apa lagi tentang pernikahan.
Semoga Allah meringankan segala pikiran dan meredupkan sejenak harap yang selama ini tertanam dalam di pikiran dan hatiku tentang sebuah pernikahan, semoga Allah segera hadirkan seseorang yang membuat semua mimpiku yang kuanggap mustahil dan tak nyata ini menjadi mudah dan lebih indah dari bayanganku. Aamiin..